Latest and Trending Videos

Film Indonesia

Trending Vidoes From Biarin Tube

Friday, March 28, 2014

asfavzxv

asfasgasgag

By: Unknown on: 9:26 PM
asgasg

asgagahah

By: Unknown on: 8:32 AM

Saturday, March 22, 2014

Its a troubling thought, I dwell on more than most, when writing this blog. Often wondering why I have such a love/hate relationship with locally made films from Northern Ireland. Though I'm an vivid supporter of the stellar talent this country produces, I find myself being its worst critic at times also. Over a year on from my last local experience, I'm back to Queen's Film Theatre to view another Northern Irish movie, the début feature from director Kieran Majury - Deadville.

The general plot of Deadville follows closely to the usual zombie thriller formula. Most of Ireland's population is dead from a horrific virus, and those left alive face an un-living nightmare. David (an impressive performance from Neal McWilliams) is on a quest to find a cure, for his beloved girlfriend, amidst the chaos; leading him to a strange encounter with a mysterious couple.

Upon entering the cinema I was given a flyer describing Deadville as a feature that shows having a low budget -£800 - should never be an issue, which is a commendable statement, nevertheless the message the film was trying to convey suffered greatly because of this.

Due to the aforementioned constraints it felt as though Deadville was being, tightly, held by a leash. Never having the chance to fully let loose with its intended blood and gore factor, which it was in dire need of, at times. The 'psychological horror' element was also ill-conceived rarely having the chance to delve into the troubling psyche of the protagonist. It possibly could have done without the genuinely cringing prologue which felt more like an advert for Storm Cinemas than the intro to a horror film.

Deadville often succeeded when setting its locations out in the wilderness areas, amongst bleaker settings, such as the loving couple's hideaway, conjuring memories of another Northern Irish feature, Ditching. However Deadville took a gamble to also expose the audience to a deserted backdrop of Belfast, which unfortunately failed because the film-makers didn't have the resources to turn the city into a desolate area. I find it comforting to know, it may be the end of the world, but at least there's minimum litter and vandalism problems...

I personally find, the highly lucrative, market for all things zombie-related a tired genre these days. The film ultimately lacks from a genuine focus in its overall theme, juggling from being a bleak psychological horror to shifting, at times, to an uneasy black comedy. These ideas have been performed time and time again by more innovative films such as 28 Days Later and Shaun of the Dead. What's even more disappointing is the fact Deadville isn't even the first zombie film to be shot in the Belfast area (I've yet to see Battle of the Bone for the record).

Final Thoughts
Deadville is a piece of low budget film making which, for a first attempt, all cast and crew can certainly be proud of. Decent performances and a chilling score also add weight to a solid argument that there is definitely potential here. Though everyone must start somewhere, lessons must be learnt, and perhaps a more original, focused and visually pleasing film will bare fruit when the producers decide go the extra mile and inject more than £800 into their productions - which in the current economic climate is far easier said than done I realise. If at first you don't fully succeed, lads, please try again!

2/5

See This If You Liked...
George A Romero films (Night of/Day of/Dawn of/Diary of the Dead etc etc), Shaun of the Dead, 28 Days Later, Battle of the Bone

Deadville is being shown on May 1st 2010 as part of the Queen's Film Theatre's zombie season, The Life and Times of the Living Dead.

Film Dead Ville (2010)

By: Unknown on: 12:33 AM
 Pasar Hantu Malam di desa Sumber Sari menjadi misterius dan mengerikan setelah ahdirnya Wangsa disana. Banyak yang hilang dan jasadnya tidak ditemukan. Kebanyakan yang tewas tersebut adalah seorang lelaki yang terpesona dengan kecantikan penari, Intan, kekasih dari Wangsa. Di lain cerita, Ramon, Venska, Sandra dan Papang berencana untuk merayakan ulang tahun Andini di Villa yang tidak tahu jauh tempatnya dengan Pasar Malam tersebut. Andini merasa ada yang tidak beres dengan Pasar Malam tersebut. Dan itu juga dirasakan Venska, temannya yang merasakan sesuatu yang aneh dengan tempat hiburan itu. Belum lagi kedekatan Ramon dengan Intan yang membuat Anidini cemburu dan geram. Karya kedua dari seorang Arie Aziz di tahun 2012 setelah film Penganten Pocong yang tayang awal bulan ini. Setelah mendapati kekecewaan di film penganten pocong karena beberapa bagian mengambil ide cerita dari film pocong juga poconggg yang sebelumnya lebih tayang lebih dahulu, nampaknya tidak membuat Arie Aziz jera untuk memperbaiki kesalahannya. Yak! Di film Rumah Hantu Pasar Malam gue merasakan kesamaan persis dengan film-film lain baik dari hollywood ataupun negri sendiri. Hmm rasanya agak sangat disayangkan sekali jika seorang sineas filmmaker hobinya hanya menjiplak dan mengambil ide cerita dari berbagai macam film atau dengan kata lain disebut tidak orisinil. Skenario yang dibuat oleh Demi Ananda dan Aris Muda pun sebenarnya cukup enak untuk dinikmati tapi sayangnya itu balik lagi tidak orisinil dan karakter-karakter pemainnya terlihat lempeng dan mentah! Suasana dan nyawa dari film jadinya tidaklah kuat dan berkarakter karena faktor ketidakorisinalitasnya. Padahal musik dari film ini bisa dibilang cukup membangun suasana ketegangan loh. Oh iya, beberapa adegan sepertinya tidak begitu cocok dan berkesinambungan, itu semua dikarenakan faktor editan dari film ini yang terlihat kasar. Bagian sinematografi film ini pun agak disayangkan karena begitu gelap dan remang-remang serta tidak fokus. Memang hanya sutradara tetangga yang ahli untuk membuat gambar lebih indah walaupun isi cerita filmnya kosong. Twist dari film ini pun nampaknya tidak mempengaruhi menjadi bagusannya film ini untuk dinikmati. Para pemain pun nampaknya kurang greget serta lempeng begitu saja. Karakter dari Andini dan Wangsa sebenarnya dua karakter kuat dari film ini tapi sayangnya ekspresi Rebecca dan Willy Dozan jauh dari kata maksimal. Terlepas dari pelafalan yang agak kurang jelas, Rebecca di beberapa adegan masih terlihat kosong dan kaku. Willy Dozan aktor laga senior pun walaupun melakukan aksi laga di film ini juga kurang begitu greget penampilannya. Karakter Venska yang diperankan oleh Imey Liem sebenarnya cukup baik dibandingkan Rebecca namun porsinya sayang sekali tidak begitu di film ini. Selain mereka ada Rocky Jeff, Sogi dan Amel Alvi serta Kang Jaka yang ikut meramaikan film ini sepanjang kurang lebih 80 menit. Akhir kata, film Rumah Hantu Pasar Malam yang merupakan karya MVP pictures ketiga di tahun 2012 kali ini, agaknya sangat disayangkan karena hasil sutradara Arie Aziz nampaknya tidak orisinil lagi. Beberapa adegan terlihat seperti film-film baik yang sudah tayang di hollywood atau pun di negeri sendiri. Andai saja penggarapan beliau lebih orisinil, secara tidak langsung film ini sebenarnya bisa menjadi film genre thriller/horror/slasher yang baik di awal tahun 2012. Namun itu semua hanya angin lalu saja karena faktor ketidakorisinalitas film ini. Semoga saja Arie Aziz lebih orisinil lagi dalam menyutradarai sebuah film.

Film Rumah hantu pasar malam

By: Unknown on: 12:23 AM
Belajar tentang kehidupan tak harus selalu dari hal baik. Dari kejadian buruk, kita dapat memetik hikmah kemudian mempelajarinya agar tidak terulang. Mungkin, karena hal itulah film NOT FOR SALE, memberikan benturan-benturan persoalan kehidupan remaja masa kini sepanjang film yang berdurasi 90 menit. Potret buram remaja putus sekolah, menjual diri, menjadi germo, menjadi penari striptease, kecanduan alkohol dan narkotika, terangkum dalam kisah empat sekawan May, Shasi, Andhara, dan Dessy. Selain Andhara, sejatinya mereka masih bisa dibilang anak-anak karena masih sekolah SMA. Keluarga yang tidak harmonis dan desakan ekonomi membuat mereka terjerumus ke dalam upaya sesaat dalam mendapatkan uang tanpa kerja keras. Ironis mungkin, kita tidak bisa nemampik bahwa kejadian itu memang ada. Film ini tidak memberikan penyeimbang dari setiap masalah yang dihadapi pemainnya. Seolah-olah kehidupan hanya berkutat dengan materi. Menjual diri adalah satu-satunya cara untuk menutup kebutuhan akan materi. Posisi orang tua dan guru sama-sama tidak dimaksimalkan sebagai pencegah kejadian itu bertambah parah. Justru menjadi pemicu persoalan semakin panjang. Anak-anak dibebani permasalahan yang seharusnya menjadi permasalahan orang tua. Selain itu keinginan untuk tampil gaya dengan segala macam barang yang canggih. Sashi (Arumi Bachsin), yang menjadi germo teman-temannya, dikeluarkan dari sekolah karena salah satu gadisnya ada yang hamil, dan ia dinyatakan bersalah. Sementara May, difitnah oleh sahabatnya sendiri. Gadis polos ini disebut sebagai pelacur, sehingga membuat kepala sekolah juga mengambil sikap mengeluarkannya dari sekolah. Mendengar hal itu, orang tua May marah dan tidak mengizinkannya kembali ke rumah. Kejadian May dan Sashi ini terjadi pada hari dan sekolah yang sama. Saat meratapi nasib, mereka bertemu, berkenalan, dan akhirnya bersahabat. Sashi memberi tumpangan tempat tinggal bagi May. Di tempat koslah May bertemu Andhara (Okkie Callerista, nama lain dari Okie Agustina -red) dan Dessy. Andhara adalah seorang bartender di tempat Dessy menari striptease. Demi mencari uang untuk pengobatan ibunya May bekerja sebagai penari di club tempat Andhara bekerja, walaupun Andhara melarangnya May sangat bersikeras sekali, yang Andhara bisa lakukan hanya melindungi May dari gangguan pria-pria hidung belang, yang mengganggu May. Hingga satu ketika terjadi perkelahian, Andhara menghajar seorang pria yang melecehkan May. Ditengah keributan itu Rangga seorang pemuda membantu membela Andhara dan May. Setelah kejadian itu hubungan May dengan Rangga pun semaikin dekat, Andhara yang cemburu merasa ada yang aneh dengan perlakuan Rangga. Kecurigaannya Andhara pun terbukti, Rangga hanya ingin menodai May, tapi May berhasil melarikan diri. Andhara langsung memberi pelajaran kepada Rangga. Tidak terima perlakuan Andhara, Rangga melaporkan dan menjebak Andhara saat membeli sabu-sabu kepada polisi, Andhara pun dijebloskan ke penjara. Kondisi May makin terpuruk, ibunya dalam kondisi kritis, ditambah rasa bersalah dan empati terhadap Andhara, akhirnya ia meminta Shasi untuk menjual dirinya. Shasi menolak keras permintaan May, dan May membujuk Shasi karena ia membutuhkan uangnya untuk membantu ibunya dan menebus Andhara di penjara. Shasi mengalah dan mencarikannya om-om yang sanggup membayar mahal keperawanan May. Om yang membayarnya ternyata mempunyai kelainan seks, dengan penyiksaan. May dan Shasi duduk merenungi hidup mereka, ternyata setelah hilang keperawanannya, ibu May malah meninggal di rumah sakit karena terluka saat bertengkar dengan bapaknya. Andhara juga tidak lama meninggal kemudia, karena over dosis narkoba. Tak kuat menahan beban hidup, May juga membunuh dirinya sendiri. Sementara Shasi dibunuh oleh mantan gadisnya sendiri dan Dessy disiksa penggemar tariannya yang terobsebsi dengannya.

Film Keperawanan tidak untuk dijual (18+)

By: Unknown on: 12:19 AM
Ini adalah kisah cerita seorang anak tukang kayu bernama Joko Widodo, yang tinggal dan hidup sederhana di rumah kecil pinggiran sungai. Masa kanak-kanak yang jauh dari istilah berkecukupan telah dilaluinya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat anak kampung pemburu telor bebek ini untuk meneruskan sekolahnya ke pendidikan yang lebih tinggi. Kecintaannya pada Musik Rock yang tetap bertahan hingga saat ia menjadi pemimpin besar nantinya itu, seolah mampu memotivasi semangat dalam hidupnya. Kisah cinta dengan Iriana, seorang gadis sederhana, teman satu sekolah adiknya menjadi pendorong semangat sang pemimpin masa depan ini untuk menghadapi berbagai tantangan. Sepeninggal Pak Notomiharjo, orang tua, guru sekaligus sahabatnya, Joko seperti tak mau tenggelam dalam kedukaan. Usahanya untuk membuktikan semua pelajaran dari sang ayah, makin keras dan berat ia lakukan. Dan waktu mengantarkan anak bantaran kali ini, menjadi sosok yang bukan hanya besar dimata orang-orang disekitarnya namun juga rendah hati dan selalu memanusiakan sesamanya. Dari pinggiran sungai di desa kecil bernama Srambatan, Jokowi telah mampu tampil menjadi pemimpin kota yang menulis lembar sejarah baru saat ini

Film Jokowi - Film Indonesia (2013)

By: Unknown on: 12:15 AM
Kabar heboh dari dunia perfilman Indonesia, sebuah film horor yang dibumbui dengan berbagai adegan panas berjudul "HANTU PUNCAK DATANG BULAN" telah lolos sensor. Film horor terbaru ini di bintangi oleh deretan artis papan atas yaitu Andi Soraya, Tessa Mariska, Lia Trio Macan, dan Ferly Putra. Tentunya berbagai tanggapan bermunculan di masyarakat, namun bagaimana dengan MUI yang "katanya" masih mempelajari film ini apakah masuk dalam daftar cekal, kini bagaimana tanggapan Anda?

Film Hantu puncak datang bulan (18+)

By: Unknown on: 12:12 AM

 

Our Team Members

Copyright © Biarin Tube | Designed by Templateism.com | WPResearcher.com